www.AlvinAdam.com

Berita 24 Papua

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

“Di Tangan Tukang Kayu yang Tidaklah Gagah, Kami Dihargai Layaknya Manusia Indonesia”

Posted by On 04.44

“Di Tangan Tukang Kayu yang Tidaklah Gagah, Kami Dihargai Layaknya Manusia Indonesia”

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi bersama anak-anak di Papua. (Foto: Biro Setpers)
Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi bersama anak-anak di Papua. (Foto: Biro Pers Setpers)

INFONAWACITA.COM â€" Surat tulus dari pemuda Papua Cristian Pundulay mengungkapkan bagaimana kondisi sebenarnya di Papua selama 3,5 tahun terakhir ini. Cristian mengungkapkan jika baru kali ini anak Papua merasa menjadi bagian dari Indonesia.

Tulisan ini dibuatnya untuk masyarakat luar Papua yang selalu menjadikan Papua sebagai bahan untuk mengkritik pemerintah. Tulisan yang diunggah di akun Facebook Christian Pandulay pada Jumat (27/4/2018) inipun akhirnya viral.

“Banyak orang yg SOMAD (sok tau amad) tentang Papua. nulis begana begini begono tentang Papua. eh saya hidup di Papua sejak 95 tak mau belagu nulis tentang Papua, apalagi sok tauu, saya hidup di daratan Serui, tau Serui tidak?,” tulis Cristian membuka awalan suratnya.

Presiden Jokowi di Papua. (Foto: Biro Setpers)
Presiden Jokowi di Papua. (Foto: Biro Setpers)

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak pura-pura berempati dengan Papua tapi tidak berbuat apa-apa untuk tanah kelahirannya tersebut. Cristian menjelaskan kondisi Papua terdahulu, bagaimana dulu ia tidak lahir dengan seorang tenaga kesehatan, tidak memiliki jalan aspal bahkan tidak bisa menonton televisi.

Belum lagi, curah hati Cristian, masyarakat Papua dulu harus membeli sekarung beras 50 kg dengan nominal Rp1 juta. “Puji Tuhan kami tidak terlalu biasa makan nasi yg mewah dri kecil. beras itu mewah b agi kami, makanan orang orang kaya. kami cukup hidup dengan talas atau enau. syukur syukur kalau jagung lagi murah, sedikit mewah lah kami makan sekeluarga,” imbuhnya.

Harga semen yang sangat mahal membuat rumah-rumah di Papua dulu terlihat seperti kandang sapi. Kondisi ini jelas Cristian tentu berbanding terbalik dengan wilayah barat Indonesia yang bisa menikmati aspal yang mulus serta beras yang murah.

Padahal cerita Cristian kesemua hal tersebut bukan tidak mungkin merupakan hasil dari pengerukan Sumber Daya Alam (SDA) Papua selama berpuluh-puluh tahun. “Terus apa kami marah dgn kondisi dan ketimpangan itu?? tidak. kami so biasa jadi anak tiri bahkan di anggap anak pungutan,” lanjutnya.

Mulai Ada Pembangunan
Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi di Papua. (Foto: Biro Setpers)
Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko wi di Papua. (Foto: Biro Pers Setpers)

Tapi kata Cristian semenjak 3,5 tahun lalu daerahnya mulai dibangun. Saat ini anak-anak Papua sudah pergi ke sekolah menggunakan sepatu, mereka juga tidak perlu lagi repot mencari dokter karena sudah tersedia di puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit. Harga beras dan semen pun sudah tidak semahal harga berlian.

Kesemua pembangunan ini, kata Cristian, baru dimulai ketika Presiden Jokowi mulai menjabat. “Di tangan tukang kayu yang rupanya tidaklah gagah, badan nya tidaklah tegap tapi kami di anggap. kami di setarakan. kami di hargai selayak manusia Indonesia,” ungkapnya.

Padahal kata Cristian mereka sendiri tidak mengenal siapa Jokowi pada awalnya. Namun kebijakan dan hasil kerja nyatanya terasa di tengah masyarakat Papua. Ia percaya jika Presiden Jokowi bisa melanjutkan pekerjaannya untuk membangun Papua lebih baik lagi.

“Semua butuh waktu.. semua butuh proses.. tapi seorang anak desa pinggiran sung ai bengawan solo telah berupaya dan terus berjuang untuk kemajuan kami anak anak Papua,” terangnya.

“Terima kasih Presiden ku
terima kasih bapak Joko Widodo
di tangan anda, kami merasakan layak nya di anggap manusia Indonesia.

Salam dari Saerui.. dari anak bangsa yang pernah terpinggirkan,” akhir surat tersebut. (DS/yi)

Sumber: Google News | Berita 24 Papua

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »